Kalo selama ini orang-orang memandang gay dengan satu wajah : banci, mungkin ga bisa disalahkan juga, karena figur-figur seperti itu sangat mendominasi wacana tentang perilaku sex menyimpang, sehingga mempengaruhi pola pikir yang membentuk stereotype gay identik dengan kemayu or ngondek. Padahal sangat jelas, banyak diantara kita menolak dengan keras diidentikkan dengan mereka, alasannya gay is not shemale, banci ato apalah namanya, gay people adalah spesies yang berbeda, jauh lebih mulia daripada banci *nah lho*, kita pun yang pada dasarnya memiliki kemiripan preferensi, ga selalu bisa menerima para banci itu, lalu siapa yang bisa menerima? Ah, biarkan aja mereka sendiri yang mencari jawabannya ...
Stereotipe bahwa gay identik dengan kebanci2an diakibatkan kesamaan preferensi yaitu penyuka sex sejenis (istilah ini seperti orang malay menyebut indon, agak2 mengganggu sebenarnya). Karena tipe2 laki2 keperempuan2an itu mendominasi panggung publik dari kelas atas seperti media sampai ke kelas jalanan dengan mengamen asal2an yang terkadang cukup mengganggu, kalo kaga dikasi dia bisa marah2 ga jelas, kalo dah gitu mending ngalah aja deh, istilah 'banci dilawan' itu emang bener adanya.
Kalo masyarakat selama ini mendapat kesan negatif tentang mereka, ya kitapun sering tidak simpatik sama aksi banci2an tersebut. Tapi kalo dibilang mereka mewakili suara PLU, wow no way man, I'm not part of the campaign. Mungkin yang jadi masalah adalah, ketertutupan PLU yang sampai harus mendeny dirinya dengan punya cewe ato bahkan istri segala. Padahal kalo dilihat dari profesinya, mungkin disetiap bidang ada, walopun ada profesi2 tertentu yang didominasi PLU, tapi bole dibilang cukup meratalah, I think. Memang blom ada riset yang bisa membuktikan hal ini, tapi bisa dilihat dari temen-temen loe yang datang dari beragam profesi, apalagi kalo profesi2 dibidang entertainment, biangnya ...
Soal kenapa mostly PLU berusaha menutup rapat2 kondisinya dari lingkungan sosial sehari2nya, keluarga ato kerjaan/sekolah, ya alasannya jelas sekali, masalah security. Masyarakat kita umumnya blom bisa menerima kondisi seperti ini, stigma bahwa hubungan sejenis adalah penyakit apalagi ditambah dengan dogma2 agama yang sering disalahgunakan, masi sangat mengakar dalam masyarakat kita yang feodal. It's gonna take sometime to educate people that we are not different, only the preference which is supposed to be personal. Kalo masyarakat aja blom bisa menerima, apalagi keluarga kita sendiri, ditambah dengan harapan2 tertentu untuk segera menikah dan punya keturunan, wah kalo sudah sampe sana, rasanya dunia ini bukan tempat yang menyenangkan untuk hidup.
Lalu, kalo ada yang berpendapat bahwa mulai bangkitnya para PLU yang smart, yang engga menjadi bahan tertawaan seperti di dunia hiburan, hmmm mungkin perspektif ini perlu sedikit diluruskan. Bukannya bangkit, tapi yang bener adalah mereka mulai berani muncul menampakkan dirinya ke publik walopun dalam komunitas yang masih terbatas, at least untuk gay community, ya umumnya rada open lah, ga terlalu takut2 lagi. Bukti yang paling jelas adalah, mulai menjamurnya tempat2 hiburan malam yang mau mengadakan event tetap atau event khusus untuk kalangan PLU. Salah satu klub didaerah selatan yang terpencil itu ga pernah kekurangan orang walopun ada event khusus gay ditempat laen.
Nah, dari sini kita mulai bisa menarik garis, bahwa sebenarnya wajah PLU itu sama sekali ga seragam, ada banyak tipikal orang-orang PLU, yang diantarnya dapat diklasifikasiin kira-kira seperti berikut :
- Manly Abis
Manly abis maksudnya bukan manlynya dah abis, tinggal ngondeknya. Tipikal ini bersikap seperti layaknya laki-laki straight. Paling anti sama PLU yang sissy apalagi yan jelas2 shemale, sikapnya cenderung cuek, cool, dan ga pedulian sama orang. Cool itu mungkin adalah topeng untuk menutupi keadaannya yang gay, jadi ga dicurigain orang kalo ga suka godain cewe, ato juga bisa pura2 ga liat kalo ada cowo lucu yang lewat, padahal jantungnya ser-seran. Tapi kalo soal penampilan, ya pada dasarnya sama aja ama yang laennya, pakaian body fit tetap jadi andalan, walopun batasan2 dalam berpakaian sebagai laki-laki tetap dijaga, misalnya make syal is a no-no, warna baju feminim seperti pink ato ungu not a choice, ya seperti-seperti itu. Satu lagi yang pasti, body juga kudu tetap dijaga, caranya yang paling gampang ya nge-gym, alasannya buat jaga kesehatan, hmm iya lah, ato juga biar make baju enak aja, alasan klasik.
Kalo dibuat hirarki, tipikal ini merupakan kasta tertinggi, karena to stay manly is not easy dalam gempuran era feminimisme yang begitu kencang. Jadinya, walopun tampang ato body pas2an, tapi sikapnya cool, cukup tempting bagi plu untuk mendekati, asal ga oon aja. Pada dasarnya PLU tipe ini sangat antipati diidentikkan dengan banci, karena mereka merasa adalah laki-laki tulen, ga cuma casingnya tapi juga karakternya, cuma kebetulan aja suka sama laki-laki entah karena sebab apa, yang pasti nagih ...
- Metroseksual Gay
Tipikal ini berbeda untuk straight, metroseksual gay adalah tipikal PLU yang dikelilingi benda-benda grooming segala rupa, walau cara berpakaian tetap dengan kaidah laki-laki namun sentuhan-sentuhan feminim kentara banget, not to mention brands ya... Sebenarnya mereka tipikal double agent sejati, cukup tertutup tentang preferensi seksualnya, namun dilingkungan sosialnya misalnya di tempat kerja, si tipe ini cenderung menonjol diantara orang-orang sekitarnya, cemerlang sendiri diantara kerumunan, dengan age-defying look, yang terkadang bisa mencengangkan kalo tau usianya sebenarnya lebih tua sampe 10 tahun dibanding tampangnya. Itulah hasil perawatan paripurna, ga cuma tubuh luar dalam tapi juga semua yang melekat ditubuhnya ada nilai ekonomisnya, dan ga murah harganya. Hmm kalo ditilik dari mana mereka bisa membiayai itu semua, yang kalo ngandelin gaji doang kayanya ga mungkin cukup, entahlah ... yang pasti matre bukan dominasi perempuan doang zaman sekarang ...
bersambung ...
Stereotipe bahwa gay identik dengan kebanci2an diakibatkan kesamaan preferensi yaitu penyuka sex sejenis (istilah ini seperti orang malay menyebut indon, agak2 mengganggu sebenarnya). Karena tipe2 laki2 keperempuan2an itu mendominasi panggung publik dari kelas atas seperti media sampai ke kelas jalanan dengan mengamen asal2an yang terkadang cukup mengganggu, kalo kaga dikasi dia bisa marah2 ga jelas, kalo dah gitu mending ngalah aja deh, istilah 'banci dilawan' itu emang bener adanya.
Kalo masyarakat selama ini mendapat kesan negatif tentang mereka, ya kitapun sering tidak simpatik sama aksi banci2an tersebut. Tapi kalo dibilang mereka mewakili suara PLU, wow no way man, I'm not part of the campaign. Mungkin yang jadi masalah adalah, ketertutupan PLU yang sampai harus mendeny dirinya dengan punya cewe ato bahkan istri segala. Padahal kalo dilihat dari profesinya, mungkin disetiap bidang ada, walopun ada profesi2 tertentu yang didominasi PLU, tapi bole dibilang cukup meratalah, I think. Memang blom ada riset yang bisa membuktikan hal ini, tapi bisa dilihat dari temen-temen loe yang datang dari beragam profesi, apalagi kalo profesi2 dibidang entertainment, biangnya ...
Soal kenapa mostly PLU berusaha menutup rapat2 kondisinya dari lingkungan sosial sehari2nya, keluarga ato kerjaan/sekolah, ya alasannya jelas sekali, masalah security. Masyarakat kita umumnya blom bisa menerima kondisi seperti ini, stigma bahwa hubungan sejenis adalah penyakit apalagi ditambah dengan dogma2 agama yang sering disalahgunakan, masi sangat mengakar dalam masyarakat kita yang feodal. It's gonna take sometime to educate people that we are not different, only the preference which is supposed to be personal. Kalo masyarakat aja blom bisa menerima, apalagi keluarga kita sendiri, ditambah dengan harapan2 tertentu untuk segera menikah dan punya keturunan, wah kalo sudah sampe sana, rasanya dunia ini bukan tempat yang menyenangkan untuk hidup.
Lalu, kalo ada yang berpendapat bahwa mulai bangkitnya para PLU yang smart, yang engga menjadi bahan tertawaan seperti di dunia hiburan, hmmm mungkin perspektif ini perlu sedikit diluruskan. Bukannya bangkit, tapi yang bener adalah mereka mulai berani muncul menampakkan dirinya ke publik walopun dalam komunitas yang masih terbatas, at least untuk gay community, ya umumnya rada open lah, ga terlalu takut2 lagi. Bukti yang paling jelas adalah, mulai menjamurnya tempat2 hiburan malam yang mau mengadakan event tetap atau event khusus untuk kalangan PLU. Salah satu klub didaerah selatan yang terpencil itu ga pernah kekurangan orang walopun ada event khusus gay ditempat laen.
Nah, dari sini kita mulai bisa menarik garis, bahwa sebenarnya wajah PLU itu sama sekali ga seragam, ada banyak tipikal orang-orang PLU, yang diantarnya dapat diklasifikasiin kira-kira seperti berikut :
- Manly Abis
Manly abis maksudnya bukan manlynya dah abis, tinggal ngondeknya. Tipikal ini bersikap seperti layaknya laki-laki straight. Paling anti sama PLU yang sissy apalagi yan jelas2 shemale, sikapnya cenderung cuek, cool, dan ga pedulian sama orang. Cool itu mungkin adalah topeng untuk menutupi keadaannya yang gay, jadi ga dicurigain orang kalo ga suka godain cewe, ato juga bisa pura2 ga liat kalo ada cowo lucu yang lewat, padahal jantungnya ser-seran. Tapi kalo soal penampilan, ya pada dasarnya sama aja ama yang laennya, pakaian body fit tetap jadi andalan, walopun batasan2 dalam berpakaian sebagai laki-laki tetap dijaga, misalnya make syal is a no-no, warna baju feminim seperti pink ato ungu not a choice, ya seperti-seperti itu. Satu lagi yang pasti, body juga kudu tetap dijaga, caranya yang paling gampang ya nge-gym, alasannya buat jaga kesehatan, hmm iya lah, ato juga biar make baju enak aja, alasan klasik.
Kalo dibuat hirarki, tipikal ini merupakan kasta tertinggi, karena to stay manly is not easy dalam gempuran era feminimisme yang begitu kencang. Jadinya, walopun tampang ato body pas2an, tapi sikapnya cool, cukup tempting bagi plu untuk mendekati, asal ga oon aja. Pada dasarnya PLU tipe ini sangat antipati diidentikkan dengan banci, karena mereka merasa adalah laki-laki tulen, ga cuma casingnya tapi juga karakternya, cuma kebetulan aja suka sama laki-laki entah karena sebab apa, yang pasti nagih ...
- Metroseksual Gay
Tipikal ini berbeda untuk straight, metroseksual gay adalah tipikal PLU yang dikelilingi benda-benda grooming segala rupa, walau cara berpakaian tetap dengan kaidah laki-laki namun sentuhan-sentuhan feminim kentara banget, not to mention brands ya... Sebenarnya mereka tipikal double agent sejati, cukup tertutup tentang preferensi seksualnya, namun dilingkungan sosialnya misalnya di tempat kerja, si tipe ini cenderung menonjol diantara orang-orang sekitarnya, cemerlang sendiri diantara kerumunan, dengan age-defying look, yang terkadang bisa mencengangkan kalo tau usianya sebenarnya lebih tua sampe 10 tahun dibanding tampangnya. Itulah hasil perawatan paripurna, ga cuma tubuh luar dalam tapi juga semua yang melekat ditubuhnya ada nilai ekonomisnya, dan ga murah harganya. Hmm kalo ditilik dari mana mereka bisa membiayai itu semua, yang kalo ngandelin gaji doang kayanya ga mungkin cukup, entahlah ... yang pasti matre bukan dominasi perempuan doang zaman sekarang ...
bersambung ...
Tidak ada komentar:
Posting Komentar